Featured Post Today
print this page
Latest Post

Jumat, 16 November 2012

Kemdikbud Jaring Mahasiswa Kreatif dengan Beasiswa Unggulan Teknologi Industri Kreatif (Butik) CIMB Niaga


Jakarta --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan PT Bank CIMB Niaga Tbk melanjutkan kerja sama pemberian beasiswa unggulan bagi mahasiswa berprestasi dan kreatif. Kerja sama yang telah berlangsung sejak 2009 ini telah membantu 155 mahasiswa berprestasi menyelesaikan pendidikannya. Tahun ini, selain beasiswa unggulan juga ada beasiswa unggulan teknologi industri kreatif (butik) yang diberikan kepada 15 mahasiswa tingkat S1 dan D3 (bagi vokasi dan politeknik).
Mahasiswa terpilih adalah mahasiswa yang telah menjadi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Masing-masing penerima butik akan mendapat dana Rp15 juta sebagai modal usaha. Total dana yang dialokasikan bagi kedua program ini sebesar Rp540 juta untuk butik dan Rp1,8 miliar untuk beasiswa unggulan. Penerima beasiswa unggulan dan butik merupakan mahasiswa dari 11 perguruan tinggi yang berada di bawah koordinasi Kemdikbud.
Sekretaris Jenderal Kemdikbud Ainun Na’im mengatakan, Kemdikbud sangat mengapresiasi upaya CIMB Niaga yang ikut memajukan pendidikan. Na’im yang hadir dalam acara penyerahan beasiswa unggulan dan butik di Gedung Kemdikbud, Senin (12/11) malam, menyampaikan apresiasi Mendikbud yang saat itu tidak bisa hadir karena masih menggelar rapat kurikulum.
Menurutnya, sebagai perusahaan yang konsisten dalam menerapkan program tanggung jawab sosialnya di bidang pendidikan, CIMB Niaga diharapkan akan menciptakan generasi muda yang cerdas, tangguh, pintar, dan berperan aktif dalam tata perekonomian Indonesia ke depan.
Lydia Tumbelaka, Compliance, Corporate Affairs and Legal Director of PT Bank CIMB Niaga Tbk mengatakan, program beasiswa unggulan dan butik ini merupakan salah satu wujud dari kepedulian Bank CIMB Niaga untuk memajukan pendidikan di tanah air. Terutama bagi mahasiswa yang kreatif dan mandiri yang berusaha untuk meningkatkan kualitas diri.
Program beasiswa unggulan CIMB Niaga ini, lanjut Lydia, akan diberikan kepada 33 mahasiswa dari 11 perguruan tinggi. Beasiswa meliputi biaya kuliah, biaya hidup selama masa kuliah aktif 40 bulan, laptop, biaya pengembangan diri dan biaya pengerjaan tugas akhir. Lulusan penerima beasiswa unggulan akan berkesempatan bekerja di CIMB Niaga. “Ini bagian dari usaha CIMB Niaga untuk mencetak tenaga kerja yang professional,” katanya. (AR)


@Kemendiknas

Kurikulum 2013: Mata Pelajaran Dikembangkan Berdasarkan Kompetensi

Jakarta --- Perubahan kurikulum adalah pekerjaan besar. Berubahnya kurikulum akan merubah empat aspek yang terkait di dalamnya, yaitu standar isi, standar proses, standar kelulusan, dan standar penilaian. Setelah berubah pun, kurikulum bukanlah hanya sebagai pajangan, tap harus diterjemahkan lagi dalam buku pengantar pelajaran yang akan disampaikan ke siswa. Tentang standar lulusan, perubahan akan tergambar dari soft skill dan hard skill yang diterjemahkan sebagai kompetensi para lulusan. Kedua kompetensi tersebut harus dinaikkan dan diseimbangkan dengan melibatkan tiga domain, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Dari sisi isi, ada kedudukan mata pelajaran dan pendekatannya. Kalau sekarang kompetensi itu diturunkan dari mata pelajaran, ke depan akan berubah menjadi mata pelajaran yang dikembangkan dari kompetensi. “Jadi mata pelajaran itu kendaraan saja. Kalau mau nyebrang lautan ya pakai kapal. Naik gunung pakai sepeda gunung,” kata Mendikbud M. Nuh, Selasa (13/11) di ruang kerjanya.
Untuk standar proses, semula proses terpaku pada eksplorasi, terfokus. Sedang di kurikulum yang baru siswa menjadi lebih aktif dalam observasi. Dan untuk standar penilaian, akan dilakukan dengan berbasis kompetensi. Salah satu pendukung kompetensi itu adalah ekstrakulikuler Pramuka yang wajib diikuti semua siswa. Karena dalam pramuka terdapat leadership, kerja sama, keberanian, dan solidaritas.
Pendekatan kurikulum yang paling kritikal dan krusial berada pada pendidikan dasar SD dan SMP. Karena jika pendidikan di SD bagus, ke belakangnya juga akan bagus. Dan untuk SD-SMP digunakan pendekatan tematik integratif dalam semua mata pelajaran. Konsep ini merupakan metode pembelajaran yang didasarkan atas tema-tema. Dalam satu tema yang diangkat akan merambah ke mata pelajaran lain. “Misalkan pelajaran Bahasa Indonesia, guru mengambil tema sungai. Ada pendekatan observasi seperti apa sungai, apa isinya, kenapa bisa mengalir, dan sebagainya. Semua pendekatan tersebut akan mengarah kepada semua mata pelajaran. Baik bahasa indonesia, sains, agama, dan matematika,” jelas Menteri Nuh.
Ada enam mata pelajaran yang akan diajarkan di SD. Yaitu Bahasa Indonesia, PPKn, Agama, Matematika, dan muatan lokal yang dibagi dua: prakarya dan pendidikan jasmani dan olahraga kesehatan. Dalam enam mata pelajar yang terintegrasi secra tematik ini, siswa tidak perlu lagi membawa puuluhan buku ke sekolah setiap harinya. Ada integrasi pembelajaran di dalamnya. Dan dengan perubahan kurikulum ini pula, siswa tidak terkungkung di dalam kelas ataupun laboratorium. Setiap apa yang dilihatnya akan menjadi bahan belajarnya, dan menjadikan guru bukan satu-satunya sumber belajar. (AR)

Kurikulum Baru, Apa Harus Bilang Wow Gitu?


Hampir dapat dipastikan, mulai tahun ajaran (pembelajaran) baru 2013/2014, Indonesia akan menerapkan kurikulum baru untuk seluruh sekolah di tingkat SD, SMP dan SMA atau sederajat. Mendikbud, Mohammad Nuh menjelaskan, saat ini kurikulum baru sudah masuk pada persiapan tahap uji publik yang dimulai pada sekitar akhir bulan November tahun ini.
Tahap uji publik adalah suatu tahapan dimana Kemendikbud akan menerima masukan, saran atau kritik dari berbagai elemen masyarakat, sesaat sebelum kurikulum baru dianggap telah rampung untuk disahkan, dan telah siap untuk digunakan. Tahap selanjutnya, adalah sosialisasi dan penataran para guru, serta pencetakan bahan ajar bagi siswa.
Secara normatif, rencana penerapan kurikulum baru merupakan hal yang wajar, sebagai sebuah keniscayaan dari kehendak perubahan zaman. Kurikulum baru juga bisa dianggap sebagai bagian dari tanggapan pemerintah atas harapan, masukan, kritik dan saran dari masyarakat yang menghendaki adanya penyesuaian atas kurikulum lama yang berlaku hingga saat ini.
Semangat kurikulum baru yang, - antara lain - hendak lebih menyederhanakan (jumlah) mata pelajaran, dianggap memenuhi harapan para orang tua siswa yang selama ini ikut merasakan anaknya menanggung beban pelajaran yang terlampau banyak atau berat. Muatan kurikulum baru yang akan lebih berbasis pada pendidikan karakter, juga dianggap selaras dengan tuntutan masyarakat mengenai kian perlunya penguatan kembali pada pengembangan kepribadian siswa yang unggul dan luhur.

Guru Pegang Kunci
Pertanyaannya, apakah perubahan kurikulum akan benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan harapan masyarakat, ataukah akan terjebak kembali pada lagu lama yang mewakili ungkapan “Ganti Menteri, Ganti Kebijakan, dan Ganti Kurikulum”. Dalam hal ini, kurikulum baru akan lebih dirasakan oleh masyarakat sebagai sebuah aksi pencitraan atau bahkan sebagai sebuah proyek semata, dan jauh dari kesan sungguh-sungguh dalam upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan nasional secara keseluruhan.
Saat pertama kali mengetahui adanya rencana perubahan kurikulum, seorang teman sempat memberikan tanggapan. “Kurikulum baru, apa gue harus bilang wooow, gitu?” ucapnya setengah bercanda. Ia mengingatkan, agar jangan pernah melupakan masalah kinerja guru. Diperlukan waktu bagi guru untuk menyesuaikan dengan kurikulum baru, terutama bagi guru yang beralih mata pelajaran karena terkena penghapusan.
Perubahan kurikulum baru adalah penting. Akan tetapi, mempersiapkan guru agar lebih mampu mengoperasionalkan kehendak dari kurikulum baru adalah jauh lebih penting lagi. Mengapa? Karena, betapapun idealnya kurikulum baru telah berhasil disusun, pada akhirnya, kunci penentu tetaplah berada di tangan para guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan kurikulum.
Artinya, perubahan kurikulum bukanlah jaminan terjadinya peningkatan mutu pendidikan. Secara praktis di lapangan, kunci mutu pendidikan pada dasarnya berada di tangan guru, sebagai pelaksana kurikulum yang sehari-hari berinteraksi secara langsung dengan peserta didik. Kinerja guru, jelas akan sangat menentukan atas mutu pendidikan.

Belajar Jugyo Kenkyu
Indonesia telah ikut belajar, bagaimana pada tahun 1980-an Amerika Serikat (AS) pernah menyadari ketertinggalannya dari Jepang dalam hal mutu pendidikan. Disebutkannya, para ahli dan praktisi pendidikan di AS mengakui, perubahan kurikulum seringkali terjadi di negeri Barack Obama itu, namun masalahnya tidak selalu seiring dengan peningkatan mutu pendidikan yang diharapkan.

“Satu hal yang tidak ada di AS, tapi ada di Jepang, adalah adanya sistem yang menjamin terjadinya peningkatan mutu pembelajaran secara terus-menerus dan berkelanjutan,” 

demikian kesimpulan mereka setelah mempelajari sistem pembelajaran khas Jepang, yaitu Jugyo Kenkyu atau kemudian dipopulerkan dengan isilah Lesson Study.

Melalui Jugyo Kenkyu, mereka dapat mempelajari bagaimana sejumlah guru di Jepang secara bersama-sama melakukan kegiatan perencanaan dan observasi pada proses pembelajaran di suatu sekolah. Seorang guru yang sedang mengajar di suatu kelas, di observasi oleh beberapa guru lainnya yang satu mata pelajaran atau sejenis. Mereka bisa berasal dari sekolah yang sama atau dari sekolah yang berbeda.
Tujuannya adalah mendapatkan berbagai masukan, termasuk dari siswa sendiri, mengenai cara mengajar agar dapat memotivasi para siswa untuk dapat belajar aktif secara mandiri.

Hasil dari kegiatan observasi itu, kemudian dibahas dan dianalisa di antara mereka sendiri. Sejumlah masalah selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dikaji dari berbagai segi, termasuk berdasarkan pengalaman di antara para guru masing-masing. Mereka saling memberikan pendapat dan penilaian, sekaligus memberikan masukan atau solusi, bagaimana agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik.

Hasil dari kegiatan observasi, pengkajian dan pembahasan mengenai pembelajaran ini kemudian dijadikan sebagai masukan atau umpan balik bagi kegiatan pembelajaran berikutnya. Begitu seterusnya, mereka lakukan itu secara berkelanjutan. Sebuah sistem peningkatan mutu pembelajaran memang telah berlangsung secara terus-menerus, berangkat dari pengalaman para guru secara langsung.

Bersyukur, sejak tahun 1998, Indonesia pun mulai ikut belajar mengenai Jugyo Kenkyu atau Lesson Study kepada Jepang. Saat ini, program Lesson Study masih terus disosialisasikan dan dikembangkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Mengapa? Karena, Lesson Study telah diyakini sangat potensial untuk meningkatkan mutu pembelajaran, meningkatkan mutu profesionalitas pendidik atau guru, dan selanjutnya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.
Kita berharap, semoga Kemendikbud tidak lupa, bahwa perubahan kurikulum pun harus segera disertai dengan peningkatan mutu pembelajaran yang terus-menerus dan berkelanjutan. Salah satunya, adalah melalui pelaksanaan program Lesson Study yang efektif. Jadi, kita tunggu langkah-langkah berikutnya dari Kemendikbud.

Bagaimana dengan pendapat Anda? Salam persahabatan. *** [By Srie]
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PENDIDIKAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger